English French Russian Japanese Arabic


Tawadzun yang Menjadi Cita Diri

Selasa, 28 April 2015


Tawadzun yang menjadi cita diri, karena keseimbangan yang meliputi.
Rasa malu terus mengusik diri untuk tidak melanjutkan tulisan ini, karena pada dasarnya  aku yang masih mencita-cita kan untuk berada pada keseimbangan itu sendiri.
Bagaimana bisa berkata lebih tentang keseimbangan, padahal saya tak kunjung berada pada titik itu.
Tapi anehnya kusadari, tawadzun yang dicitakan masih akan menjadi  harapan yang kosong bila terus mencitakannya tapi tak ada usaha lebih untuk menggapainya. Heheh :D
Maka dari itu, tulisan ini menjadi harapan mulai menasehati diri sendiri.

Fitrahnya manusia diberi Allah 3 potensi dalam mejalani hidup, yang berupa Akal (Fikriyah), Ruh, dan Fisik. Ketiga potensi tersebut tentunya harus dalam keadaan seimbang. Bila salah satunya dalam keadaan merintih, maka seimbang itu belum dapat diraih.

Tugas utama seorang mahasiswa adalah belajar dan menimba ilmu dimana pun mereka berada. Mahasiswa biasa yang hanya memanfaatkan waktunya dengan aktifitas berguna tetapi untuk dirinya sendiri, Lain hal lagi dengan mahasiswa “lainnya”, mereka yang terus berfikir dan bergerak mengorbankan waktu nya ke hal yang jauh bermanfaat untuk diri dan disekitarnya.

Mengapa mahasiswa ? Karena keluh kesah unik yang muncul  pada mahasiswa masa kini adalah kesibukan yang seakan lupa kesehatan bahkan istirahat  untuk memanjakan diri karena aktivitas dakwah yang dijalani. Seharusnya alasan seperti ini tak kita miliki untuk menjawab tanya yang susah untuk mentawadzun kan diri.
Berperan sebagai mahasiswa aktifis dakwah, tentunya kita sering melihat atau mungkin pelakunya diri sendiri, karena dakwah yang membuat nilai menurun, karena aktifias dakwah yang membuat lupa akan menyayangi diri. Bahkan, karena dakwah kita lupa sendiri akan tugas merawat diri. Bukan saya ingin menjabarkan kebanyakan aktifis dakwah seperti ini. Tapi, apakah kita bagian dari ini  ?

Bukanlah karena dakwah nilai kita menurun, tetapi diri kita yang belum mampu bertawadzun.
Bukanlah karena dakwah lupa menyayangi diri, tetapi sifat di diri yang cenderung untuk terus memberi dan mengasihi.

Allah juga mengisyaratkan tentang keseimbangan, seperti yang tertuliskan dalam (Q.S Al-Mulk 3) :

“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang, Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang ?

Keseimbangan-Nya yang dapat kita lihat dari segala diciptakan berpasang-pasangan, lelaki dan perempuan, dan malam juga siang. Saking Allah mengajarkan kesimbangan untuk diri kita, Allah ngerti kali dengan diri ini, Malam yang diciptakan untuk berisitirahat.

“Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya” (Q.S Al-Qashash : 73)

Hayoo, yang lagi mencoba tawadzun, apakah menggunakan malam untuk beristirahat ? Atau mungkin kita tak termasuk seperti yang termuat di ayat ? #Mirisnyaa :D

Allah yang menciptakan malam untuk beristirahat, tapi mendzolimi diri dengan tak ta’at.  Begitu juga Allah yang menciptakan malam untuk bermunajat, tapi tak ta’at karena terlampau penat. :’)

Tawadzun akan dicapai, bila diri yang berniat untuk menggapai, tawadzun menjadi mudah, bila diri tak membuat susah.
Lakukan yang terbaik untuk umat, tetapi bukan dengan mengabaikan sakit yang tiba-tiba akan kumat. Lakukan yang terbaik untuk umat, tetapi tak juga lupa akan mencapai nilai yang meningkat.

Salam kece J



0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.
 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Cerita dan Cita - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger